Budha – Biografi, Ajaran, Kisah, Dikupas Tuntas Disini
Budha – Biografi, Ajaran, Kisah, dikupas tuntas disini
Inibiodata.com – Siddhartha, yang lalu dikenal sebagai Buddha – atau Yang Tercerahkan – ialah seorang pangeran yang meninggalkan kenyamanan istana untuk mencari pencerahan. Dia menyadari ketidak-realitas esensial dunia dan mengalami kebahagiaan Nirvana. Setelah pencerahannya, ia menghabiskan sisa hidupnya dengan mengajar orang lain bagaimana cara menghindari siklus kelahiran dan janjkematian yang tak berkesudahan.

Biografi Sang Buddha
Buddha dilahirkan sekitar 400 SM di kawasan yang kini dikenal sebagai Nepal. Dia dibesarkan di istana dengan segala kenyamanan dan kemewahan yang dimungkinkan. Tumbuh sebagai pangeran ningrat muda, konon ayahnya berusaha melindungi pangeran muda Siddhartha dari rasa sakit dan penderitaan dunia. Dikatakan bahwa ayahnya mempunyai firasat bahwa Siddhartha suatu hari akan meninggalkan dunia.
Namun, pada satu titik di awal kehidupan dewasanya, Siddhartha berusaha menemukan makna yang lebih besar bagi kehidupan. Dengan menyamar, beliau meninggalkan istana dan berkeliaran di sekitar kerajaan. Di sini, Siddhartha bertemu dengan orang-orang yang berbeda yang menderita usia renta dan penyakit dan menyaksikan kematian. Ini memperlihatkan padanya sifat kehidupan sementara, yang mempunyai efek besar pada dirinya. Sebagai akibatnya, Siddhartha tetapkan untuk mencari makna kehidupan yang lebih dalam.
Diam-diam, Siddhartha meninggalkan istana – meninggalkan istri, putranya, dan semua kenyamanan duniawi yang telah beliau nikmati. Dia mengabdikan dirinya untuk meditasi, mencari pencerahan di antara para petapa di hutan.
Dalam pencariannya yang intens untuk pencerahan, Siddhartha berpuasa berlebihan sehingga tubuhnya hilang; Namun, meskipun upaya kerasnya, pencerahan masih tetap jauh. Pada satu titik, seorang perempuan yang lewat memberinya masakan untuk dimakan dan Siddhartha menyadari itu ialah suatu kesalahan untuk mencari pencerahan dengan menyiksa tubuh. Dia mendapat kembali kekuatannya dan tetapkan untuk mengikuti ‘jalan tengah’, menghindari puasa dan pesta yang berlebihan.
Pada suatu hari, Siddhartha tetapkan untuk duduk di bawah pohon Bodhi hingga beliau mencapai pencerahan. Selama beberapa hari, ia duduk bermeditasi mencari Nirvana. Dia diuji oleh aneka macam kekuatan yang berusaha mencegahnya mewujudkan tujuan.
Namun, Siddhartha berhasil dan masuk ke dalam kesadaran Nirvana yang senang selama beberapa hari. Ketika kembali ke kesadaran normal, Siddhartha Sang Buddha (Buddha berarti ‘yang tercerahkan’) menciptakan keputusan untuk menghabiskan sisa hidupnya dengan mengajar orang lain bagaimana cara menghindari penderitaan kehidupan yang melekat.
Selama bertahun-tahun, Buddha melaksanakan perjalanan keliling India, terutama di sekitar dataran Gangga dan di Nepal, mengajarkan filosofi pembebasannya. Ajaran-ajarannya disampaikan secara mulut dan tidak ditulis hingga bertahun-tahun sehabis kematiannya.
Banyak kisah bekerjasama dengan kehidupan Sang Buddha dalam fase pengajaran ini. Ajaran-ajaran dasarnya ialah wacana cinta, kasih sayang, dan toleransi. Sang Buddha mengajarkan bahwa seorang pencari harus mempunyai belas kasih untuk semua makhluk hidup dan ini ialah pedoman yang paling penting. Meskipun Sang Buddha tidak menyukai hukum formal, pengikut biara muncul untuk mereka yang tertarik mengikuti jalannya. Dia menganjurkan selibat yang ketat bagi mereka yang ingin mengikuti jalan biara.
Sang Buddha sering memperlihatkan ceramah wacana pencerahan, tetapi pada satu kesempatan, ia hanya mengangkat bunga dan mempertahankan keheningan. Banyak yang pergi tidak mengerti maksudnya, tetapi saat lalu ditanya, Sang Buddha menjawab bahwa ajarannya yang sebetulnya hanya sanggup dipahami dalam keheningan. Ceramah hanya sanggup memperlihatkan gosip intelektual terbatas yang bukan pencerahan nyata.
Sang Buddha berusaha untuk menghindari filosofi yang mendalam, ia menghindari memakai istilah Tuhan, lebih suka berbicara wacana cara mudah seseorang sanggup lolos dari siklus kelahiran dan kelahiran kembali dan mencapai pencerahan. Seperti banyak guru spiritual, beliau sering mengajar dalam perumpamaan untuk menjaga ajarannya tetap sederhana dan praktis.
Sang Buddha menarik permusuhan dari mereka yang iri dengan popularitas dan perkembangan spiritualnya. Salah satu bhikkhu Devadatta lalu menjadi cemburu pada Buddha dan berusaha membelah komunitas. Dia bahkan mencoba tiga kali untuk membunuh Sang Buddha, tetapi pada setiap kesempatan, beliau gagal.
Sang Buddha meninggal sehabis bertahun-tahun mengajar dan bepergian ke seluruh India. Di ranjang kematiannya, ia memberi tahu Ananda (muridnya yang terkasih) bahwa ia kini harus mengandalkan ajarannya dan mempunyai sikap etis untuk menjadi panduan hidupnya.
Baca Juga Artikel Terkait :
- Biografi Sultan Hasanudin – Profil lengkap Si Ayam jago Dari Timur
- Biografi Mahatma Gandhi, Beserta Ajaran, Perjuangan, Pemikiran, Karya, Cerita terlengkapnya
- Biodata Sasikala Teacher: Political Journey, Career and Youth
Komentar
Posting Komentar